KARANGASEM – Makanan memiliki kedudukan spiritual yang mendalam bagi warga Desa Adat Saren di Kecamatan Bebandem, Karangasem. Lewat warisan leluhur yang dinamakan Meprani, sajian kuliner diolah sebagai simbol ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta sekaligus perekat ikatan antarwarga.
Ritual yang digelar berkala setiap dua tahun ini diselenggarakan bertepatan dengan pemandaan agung (pengebek) Aci Usaba Desa. Keberadaan Meprani menjadi bukti nyata kuatnya perpaduan spiritualitas, nilai adat, kebudayaan agraris, serta keharmonisan sosial di Desa Adat Saren.
Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi hari saat pratima ida bhatara diiring untuk prosesi mesuci menuju Sela Majemuh. Setelah kembali ke pura, ritual dilanjutkan dengan pecaruan Pedatengan tepat pada tengai tepet (tengah hari). Begitu upacara usai, banten caru dilarung di area pangkalan atau batas wilayah desa, di mana pratima ida bhatara turut diiringi meyangyang mengawal caru.
Sorak-sorai penuh energi memecah suasana selama perjalanan menuju batas desa, menyerupai tradisi mesuryak. Namun, pemandangan berbalik 180 derajat tatkala rombongan kembali ke desa. Seluruh krama diwajibkan menjaga kesunyian
Usai Ida Bhatara kembali berstana di payogan, prosesi utama Meprani resmi dimulai. Masyarakat berbondong-bondong menuju Bale Banjar Saren Kauh bersama keluarga dengan membawa aneka banten dan olahan makanan. Tidak cuma nasi, warga menyajikan ragam olahan khas Bali, buah-buahan, jajanan tradisional, hingga pelbagai jenis minuman.
Uniknya, hidangan Meprani sangat mencerminkan napas agraris warga Saren. Bahan daging yang diolah mayoritas berasal dari hasil persawahan setempat, menunjukkan betapa ritual keagamaan mereka menyatu erat dengan urat nadi pertanian yang dilakoni secara turun-temurun.
Sebelum dinikmati bersama, seluruh makanan dihaturkan terlebih dahulu melalui doa persembahan sebagai bentuk bakti dan rasa syukur atas kelimpahan rahmat dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Suasana kehangatan terpancar saat warga duduk bersisian tanpa memandang perbedaan untuk menyantap hidangan bersama. Meprani pun menjelma menjadi sarana konsolidasi sosial, sebuah ruang untuk mempererat persaudaraan dan merawat identitas lokal di tengah arus zaman.
Bagi krama Saren, tradisi dua tahunan ini menyimpulkan pesan mendalam bahwa rasa syukur atas kemurahan alam tak hanya dipanjatkan lewat bait doa, melainkan dirayakan secara nyata melalui kebersamaan yang dilestarikan lintas generasi. (rls)


