TABANAN — Soft Launching Boga Bali Living Museum menghadirkan sebuah kolaborasi yang mempertemukan pelestarian budaya dan pelestarian lingkungan. Dalam momen tersebut, Yayasan Jati Nusa Lestarimenyerahkan dua bibit pohon jati yang kemudian diberi nama oleh Pekak Tekor sebagai “Dua Pohon Jati Kembar Cinta.”
Boga Bali Living Museum merupakan sebuah living museum yang mengangkat kekayaan gastronomi Bali sebagai warisan budaya yang hidup. Melalui konsep Karsa, Budaya, Daya, Rasa, dan Cipta, museum ini menghadirkan pengalaman interaktif yang mengajak pengunjung mengenal lebih dekat tradisi kuliner Bali, mulai dari filosofi Base Genep, tradisi Megibung, kelas memasak, hingga perjalanan untuk memahami hubungan erat antara pangan, budaya, dan kehidupan masyarakat Bali.
“Boga Bali Living Museum bukan hanya tempat untuk mengenal kuliner Bali, tetapi ruang yang menghubungkan manusia dengan sejarah, tradisi, alam, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun,” ujar Ida Ayu Agung Ekastuti, S.E.,Ak.,MM.Inov., selaku penyelenggara dalam sambutannya.
Soft Opening dihadiri oleh Inez Baranov Couteau seorang akademisi di bidang sosiologi kuliner, dan para tokoh budaya, pelaku pariwisata, komunitas, akademisi, serta mitra yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya serta pembangunan berkelanjutan.
Momentum soft launching menjadi semakin bermakna dengan penanaman simbolis dua bibit pohon jati. Bagi Yayasan Jati Nusa Lestari, pohon jati bukan sekadar tanaman, tetapi lambang ketahanan, keberlanjutan, dan warisan bagi generasi mendatang.
Nama “Dua Pohon Jati Kembar Cinta” yang diberikan oleh Pekak Tekor mengandung pesan bahwa kecintaan terhadap budaya harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap alam. Sebab, tradisi kuliner, pertanian, hutan, dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang saling menopang kehidupan.
“Budaya tidak dapat dipisahkan dari alam. Menanam pohon berarti menjaga sumber kehidupan yang melahirkan tradisi dan identitas masyarakat. Kami berharap Dua Pohon Jati Kembar Cinta menjadi simbol bahwa pelestarian budaya dan pelestarian lingkungan harus terus berjalan bersama,” ujar Nugrati Tria Rusmala, perwakilan Yayasan Jati Nusa Lestari.
Kolaborasi antara Boga Bali Living Museum dan Yayasan Jati Nusa Lestari menunjukkan bahwa pelestarian warisan tidak hanya dilakukan melalui dokumentasi atau pameran budaya, tetapi juga melalui aksi nyata yang memberikan manfaat jangka panjang bagi bumi.Dua bibit jati yang ditanam pada momentum ini diharapkan tumbuh menjadi penanda perjalanan Boga Bali Living Museum sekaligus pengingat bahwa setiap pohon yang ditanam hari ini merupakan warisan kehidupan bagi generasi yang akan datang. (rls)


