“Tree Jati Painting Together”: Yayasan Jati Nusa Lestari, Nuanu Kids Academy dan Children’s House Ajak Anak Mengenal Alam melalui Seni

Published:

TABANAN – Menanam kecintaan terhadap alam tidak hanya selalu harus dimulai dari kegiatan menanam pohon saja. Seni, kreativitas, dan ruang bagi anak untuk bercerita juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara generasi muda dan lingkungan. Semangat tersebut menjadi dasar pelaksanaan “Tree Jati Painting Together”, sebuah kegiatan kolaboratif yang mempertemukan Yayasan Jati Nusa Lestari (JANUSA), Nuanu Kids Academy (NKA), dan Children’s House International School (Cendekia Harapan) dalam sebuah kegiatan seni dan edukasi lingkungan bagi anak-anak.

Kegiatan yang berlangsung di Bamboo Club, Nuanu Creative City, pada Sabtu, 12 September 2026, ini diikuti oleh sekitar 100 anak berusia 6–12 tahun dari Nuanu Kids Academy dan Children’s House School.

Mengusung pesan “Every Scratch Tells a Story, Every Tree Holds a Hope”, kegiatan ini dirancang untuk memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus membangun kesadaran, empati, dan kepedulian terhadap alam.

“Tree Jati Painting Together” tidak hanya menghadirkan aktivitas melukis. Anak-anak diajak melalui beberapa tahapan kegiatan yang dirancang untuk membangun keterhubungan dengan pohon dan alam. “Tree Jati” adalah sebuah kegiatan yang dilandasi oleh tiga keutamaan sejati, yaitu sejati dalam pikiran, perkataan dan tindakan yang kokoh, berdaya juang, mengakar di dalam hati, terkhusus untuk menjaga alam ibu pertiwi. Gagasan ini dicetuskan oleh I Wayan Waris, seorang guru seni yang bertahun-tahun mengabdikan hidupnya untuk mendidik generasi muda indahnya kesenian sejak dini.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan “Meet My Tree”, yaitu pengenalan terhadap pohon jati sekaligus memberikan kesempatan kepada anak untuk memberikan nama dan membangun ikatan personal dengan pohon yang mereka kenal. Selanjutnya, anak-anak mengikuti sesi “Painting Together”, yaitu kegiatan seni kolaboratif untuk menuangkan ide, imajinasi, harapan, dan cerita mereka tentang alam melalui karya visual. Setelah itu, anak-anak mengikuti sesi “Sharing & Reflection”, di mana mereka diberikan kesempatan untuk menceritakan pengalaman, gagasan, serta harapan mereka terhadap alam dan lingkungan. Sebagai bentuk apresiasi, setiap peserta juga mendapatkan sertifikat penghargaan atas partisipasi mereka dalam kegiatan.

Melalui rangkaian tersebut, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai aktivitas seni satu hari, tetapi menjadi pengalaman yang dapat membangun rasa memiliki terhadap lingkungan. Program ini juga menjadi bagian dari semangat “Sahabat Pohon”, di mana anak-anak diperkenalkan pada gagasan menjadi “Kakak Asuh” bagi bibit-bibit jati yang dikembangkan dan dirawat sebagai bagian dari upaya penghijauan.

Bagi Yayasan Jati Nusa Lestari, pendekatan terhadap lingkungan tidak hanya berbicara mengenai jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga mengenai bagaimana membangun hubungan emosional dan budaya antara manusia dengan alam.

Melalui kegiatan ini, anak-anak diberikan kesempatan untuk memahami bahwa sebuah pohon bukan sekadar objek yang ditanam, melainkan bagian dari kehidupan yang membutuhkan perhatian, perawatan, dan kepedulian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat JANUSA dalam mengembangkan gerakan “Menanam Budaya, Budaya Menanam”, yaitu menjadikan aktivitas menanam dan merawat alam sebagai bagian dari nilai kehidupan dan kebiasaan masyarakat.

Untuk memberikan apresiasi sekaligus perspektif yang lebih luas terhadap karya-karya peserta, kegiatan ini menghadirkan tiga juri, yaitu I Ketut Putrayasa (seniman patung), Tatang B.Sp. (seniman lukis), dan Iryanto Hadi (kolektor seni dan pelukis). Ketiganya memberikan penilaian terhadap karya dan proses kreatif anak-anak dengan mempertimbangkan aspek kreativitas, ekspresi, cerita, serta pesan yang disampaikan melalui karya. Kehadiran para juri juga memberikan pengalaman yang berbeda bagi anak-anak, karena mereka tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga belajar bahwa setiap gagasan dan ekspresi memiliki nilai untuk dihargai.

Sebagai salah satu juri sekaligus pembicara dalam kegiatan tersebut, Iryanto Hadi menekankan pentingnya memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengekspresikan hubungan mereka dengan alam melalui cara yang dekat dengan dunia mereka. “Anak-anak tidak selalu harus diajarkan tentang lingkungan melalui teori. Kadang-kadang mereka justru lebih mudah memahami alam ketika diberikan kesempatan untuk mengalami, merasakan, menggambar, dan menceritakan apa yang mereka lihat dan rasakan.”

Ia juga melihat kegiatan seperti Tree Jati Painting Together sebagai salah satu bentuk pendidikan lingkungan yang dapat membangun kesadaran sejak usia dini. “Kalau kita ingin berbicara tentang keberlanjutan, kita harus mulai membangun generasi yang memiliki hubungan dengan alam. Anak-anak hari ini adalah penjaga lingkungan di masa depan. Karena itu, mereka perlu diberi kesempatan untuk mengenal dan mencintai alam sejak sekarang.”

Kolaborasi antara Yayasan Jati Nusa Lestari, Nuanu Kids Academy, dan Children’s House diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana pendidikan, seni, dan gerakan lingkungan dapat berjalan secara bersama. Kegiatan ini memiliki sejumlah tujuan, antara lain mendorong anak untuk menyampaikan suara dan harapan mereka terhadap alam melalui seni, meningkatkan kesadaran dan empati terhadap perlindungan lingkungan, mendukung kesejahteraan emosional dan kepercayaan diri melalui ekspresi kreatif, serta memperkuat hubungan komunitas melalui nilai-nilai lingkungan yang dibangun bersama.

Lebih jauh, kegiatan ini ingin menanamkan sebuah pemahaman sederhana kepada anak-anak: merawat alam bukan hanya tanggung jawab orang dewasa, tetapi sebuah hubungan yang dapat dibangun sejak kecil. Melalui pohon jati, anak-anak diajak untuk mengenal, memberi nama, melukis, bercerita, dan pada akhirnya belajar merawat. Karena sebagaimana pesan utama kegiatan ini: “Every Scratch Tells a Story, Every Tree Holds a Hope.” Setiap goresan memiliki cerita. Dan setiap pohon menyimpan harapan. Harapan memiliki impian. (rls)

Berita Terkait

Berita Sebelumnya