Sang Kala Prapat Agung, Ogoh-ogoh Sederhana yang Mengingatkan Pentingnya Menjaga Mangrove

Published:

BADUNG – Di sebuah sudut pesisir timur Desa Adat Tuban, sekelompok warga lintas generasi yang menamai diri “ODOR”, berkumpul dengan semangat yang sama. Mereka berkeinginan untuk ikut bergerak dan berkontribusi dalam tradisi Ngerupuk, rangkaian penting menjelang Hari Raya Nyepi. Dengan keterbatasan biaya dan bahan seadanya, mereka tetap bertekad menghadirkan sebuah ogoh-ogoh yang sarat makna. Dari tangan-tangan kreatif itu, lahirlah karya yang diberi nama Sang Kala Prapat Agung.

Secara tampilan, ogoh-ogoh ini mungkin tidak semegah karya para yowana lain di Kabupaten Badung yang mendapat dukungan dana hingga puluhan juta rupiah. Namun bagi para pembuatnya, nilai dari karya tersebut bukan terletak pada kemewahan bentuk, melainkan pada pesan yang ingin disampaikan, yakni tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove dan ekosistem pesisir.

Salah satu penggagas pembuatan ogoh-ogoh tersebut, I Komang Putra Berlian Sumasa menuturkan bahwa karya ini terinspirasi dari kehidupan alam di pesisir timur (pasih kangin) Desa Adat Tuban. Yang mana kawasan tersebut juga dikenal sebagai lokasi pelaksanaan upacara Melasti.

Menurutnya, di kawasan itu hidup berbagai jenis tumbuhan yang saling berdampingan dalam harmoni alam yang disebut dengan istilah Taru Pramana. “Di kawasan pesisir ini tumbuh berbagai jenis tanaman yang hidup selaras dengan alam. Inilah yang kami gambarkan sebagai Taru Pramana,” ujarnya.

Ia menjelaskan, beberapa tanaman yang menjadi bagian dari Taru Pramana tersebut di antaranya Taru Pidada, Taru Camplung, Taru Jaka, dan Taru Jeruju. Masing-masing memiliki manfaat bagi kehidupan masyarakat. Taru Camplung misalnya dimanfaatkan sebagai bahan dasar minyak kletik, Taru Jaka digunakan sebagai pewarna alami, Taru Pidada dapat diolah menjadi sirup, sementara Taru Jeruju dikenal sebagai bahan obat herbal.

Tak hanya tumbuhan, kawasan pesisir itu juga menjadi rumah bagi berbagai biota laut. Ikan, kepiting, dan organisme lainnya berkembang biak di sela-sela akar mangrove, menjadikannya tempat berlindung sekaligus ruang hidup yang aman. Keseimbangan ekosistem inilah yang kemudian divisualisasikan dalam sosok penjaga alam yang mereka sebut Sang Kala Prapat Agung.

Dalam kisah yang diangkat melalui ogoh-ogoh tersebut, Sang Kala Prapat Agung digambarkan sebagai penjaga yang melindungi Taru Pramana dan menjaga keselarasan alam di kawasan pesisir. Keberadaannya dipercaya menjaga daratan dari berbagai ancaman bencana, seperti gelombang pasang hingga ancaman tsunami. Namun penjaga alam itu juga dapat murka ketika manusia merusak lingkungan.

“Ketika ada manusia yang menebang pohon di pesisir secara sembarangan, meracuni biota laut, atau membuang sampah dan limbah sembarangan, Sang Kala Prapat Agung akan marah. Kemurkaannya digambarkan melalui gelombang laut yang pasang hingga menimbulkan banjir,” jelasnya.

Melalui ogoh-ogoh sederhana ini, ODOR bersama nelayan setempat ingin menyampaikan pesan penting kepada masyarakat. Bahwa menjaga pesisir bukan sekadar kewajiban ekologis, tetapi juga bagian dari menghormati keseimbangan alam. Mereka berharap, masyarakat dapat terus menjaga flora dan fauna yang hidup di kawasan pesisir, sehingga hubungan harmonis antara manusia dan alam tetap terjaga.

“Kalau alam kita jaga, maka alam juga akan menjaga kita dari berbagai ancaman bencana seperti gelombang pasang maupun tsunami. Di situlah tercipta keselarasan antara manusia dan alam,” tutupnya. (tim)

Berita Terkait

Berita Sebelumnya